Senin, 08 Juni 2009

SILOGISME

BAB I
PENDAHULUAN

Menurut Sudarsono (2008), berpikir atau bernalar merupakan bentuk kegiatan akal/ratio manusia, dengan mana pengetahuan yang kita terima melalui panca indera diolah dan ditujukan untuk mencapai suatu kebenaran.
Aktivitas berpikir itu sendiri adalah berdialog dengan diri sendiri dalam batin manifestasinya ialah : mempertimbangkan, merenungkan, menganalisis, menunjukkan alasan-alasan, membuktikan sesuatu, menggolong-golongkan, membandingkan-bandingkan, menarik kesimpulan, meneliti suatu jalan pikiran, mencari kausalitasnya membahas secara realitas dan lain-lain.
Di dalam aktivitas berpikir itulah ditunjukkan dalam logika wawasan berpikir yang tepat atau ketepatan pemikiran/kebenaran berpikir yang sesuai dengan penggarisan logika yang disebut berpikir logis. Sedangkan yang bertentangan dengan penggarisan logika disebut tidak logis, yang bermuara kepada kesesatan pikiran yang menimbulkan kesesatan tindakan manusia.
Logika berasal dari kata logos dalam bahasa Yunani yang berarti kata atau pikiran. Secara bahasa logika berarti ilmu berkata atau ilmu berfikir benar. Kebenaran adalah syarat dari tindakan untuk mencapai tujuannya bagi laku perbuatan untuk menunjukkan nilai. Logika menuntun pandangan lurus dalam praktek berfikir menuju kebenaran dan menghindari menempuh jalan yang salah dalam berfikir. Logika merupakan studi salah satu pengungkapan kebenaran dan dipakai untuk membedakan argumen yang masuk akal, serta berbagai bentuk argumen. Dalam argumen sangat terkait dengan matematika.
Kita dapat membuat kesimpulan dikarenakan ada hubungan logis antara satu atau proposisi atau premis dengan proposisi yang lain. Kesimpulannya kurang lebih berbentuk bahwa yang kedua pasti benar jika yang pertama benar. Kemudian jika kita mengetahui yang pertama, kita dapat menyatakan yang kedua berdasarkan yang pertama. Cara berfikir secara logis sendiri terbagi dua, yaitu : induktif dan deduktif. Induktif merupakan suatu cara berfikir dimana ditarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual. Sedangkan deduktif adalah suatu cara berfikir dimana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif ini menggunakan pola berpikir yang disebut silogisme. Silogisme itu terdiri atas dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan. Selanjutnya makalah ini akan membahas lebis rinci tentang silogisme.






















BAB II
PEMBAHASAN


Silogisme adalah suatu proses penarikan kesimpulan secara deduktif. Silogisme disusun dari dua proposisi atau premis (pernyataan) dan sebuah konklusi (kesimpulan). Dua premis yang dimaksud adalah premis mayor dan premis minor. Pengertian yang menjadi subyek (S) disebut term minor. Pengertian yang menjadi predikat disebut term mayor. Pengertian yang tidak terdapat dalam kesimpulan, tapi terdapat dalam kedua premis tersebut disebut term antara/pembanding (M).
Premis yang memuat term minor disebut premis minor.
Premis yang memuat term mayor disebut premis mayor.
Menurut Sudarsono (2008), ada dua bentuk silogisme, yaitu : silogisme katagoris dan silogisme hipotetis.
1. Silogisme Katagorik
Silogisme katagorik adalah silogisme yang semua proposisinya merupakan katagorik. Menurut Surajiyo (2008), silogisme katagorik berarti argumen yang terdiri atas tiga proposisi katagorik yang saling berkaitan, dua menjadi dasar penyimpulan (premis), satu menjadi menjadi kesimpulan yang ditarik (konklusi).
Contoh : Semua binatang makan
.............M......... ...P....
Sapi adalah binatang
..S.. ...............M.......
Jadi, sapi itu makan
..........S... .......P.....
Dari contoh tersebut term binatang adalah term antara/pembanding. Sapi adalah term minor. Makan adalah term mayor. Sehingga yang menjadi premis mayor adalah Semua binatang makan, dan yang menjadi premis minor adalah Sapi adalah binatang. Kesimpulannya adalah Sapi itu makan.
Menurut Sudarsono (2008) ada pada dasarnya ada 4 pola silogisme. Keempat pola dasar tersebut adalah sebagai berikut :

a. Silogisme Sub-pre.
Silogisme yang term pembandingnya (M) menjadi subyek dalam premis mayor dan menjadi predikat dalam premis minor. Rumus polanya adalah :
M P
S M
S P
Contoh : Semua tanaman membutuhkan air (premis mayor)
................M...... ........................P..
Akasia adalah tanaman (premis minor)
....S.... ...............M.....
Akasia membutuhkan air (konklusi)
....S.... ........................P..
(S = Subyek, P = Predikat, M = term pembanding)

b. Silogisme Bis-pre
Silogisme yang term pembandingnya (M) menjadi predikat dalam premis mayor dan premis minor. Rumus polanya :
P M
S M
S P
Contoh : air dibutuhkan oleh tanaman (premis mayor)
.P.. .............................M......
Akasia adalah tanaman (premis minor)
....S.... ...............M.....
Akasia membutuhkan air (konklusi)
....S.... ........................P..

c. Silogisme Bis-sub
Silogisme yang term pembandingnya (M) menjadi subyek dalam premis mayor dan premis minor. Rumus polanya :
M P
M S
S P
Contoh : Tanaman membutuhkan air (premis mayor)
.....M...... ........................P..
Tanaman adalah akasia (premis minor)
....M....... ..............S....
Akasia membutuhkan air (konklusi)
....S.... ........................P..

d. Silogisme Pre-sub
Silogisme yang term pembandingnya (M) menjadi predikat dalam premis mayor dan menjadi subyek dalam premis minor. Rumus polanya :
P M
M S
S P
Contoh : Air dibutuhkan oleh tanaman (premis mayor)
..P.. .................................P..
Tanaman adalah akasia (premis minor)
....M....... ..............S....
Akasia membutuhkan air (konklusi)
....S.... ........................P..

2. Silogisme Hipotetik
Menurut Sudarsono (2008), silogisme hipotetik adalah suatu silogisme yang premisnya berupa pernyataan bersyarat. Predikat diakui atau dimungkiri tentang subyek tidak secara mutlak, akan tetapi tergantung kepada suatu syarat.
Contoh : Bila mahasiswa turun ke jalanan, pihak penguasa akan gelisah
Pihak penguasa tidak gelisah
Jadi mahasiswa tidak turun ke jalanan

Menurut Sudarsono (2008), masalah silogisme erat kaitannya dengan kegiatan berpikir. Di dalam pemikiran perlu diperhatikan asas-asas baik yang primer maupun yang sekunder.
a. Asas-Asas Primer
Asas primer berlaku untuk segala sesuatu yang ada, termasuk logika. Asas-asas ini dibedakan menjadi :
1. Asas identitas (principium identitas)
Asas ini merupakan dasar dari semua pemikiran. Asas ini nampak dalam pengakuan bahwa benda ini adalah benda benda ini dan bukan benda lainnya, atau benda itu adalah benda itu dan bukan benda lainnya.
2. Asas kontradiksi (principium contradictionis)
Asas ini merupakan perumusan negatif dari asas identitas. Tidak boleh membatalkan atau memungkiri begitu saja sesuatu yang sudah diakui.
3. Asas penyisihan-kemungkinan yang ketiga (principium tertii exchlusi)
Asas ini menyatakan bahwa kemungkinan yang ketiga tidak ada. Artinya jika ada dua keputusan yang kontradiksi, pastilah salah satu diantaranya salah. Sebab, keputusan yang satu merobohkan lainnya.
4. Asas alasan yang mencukupi (principium rationis sufficientis)
Asas ini menyatakan bahwa sesuatu yang ada mempunyai alasan yang cukup untuk adanya
b. Asas-Asas Sekunder
Menurut Sudarsono (2008), asas-asas sekunder dapat dipandang dari sudut isinya dan dari sudut luasnya.
1. Dari sudut isinya terdapat :
- Asas kesesuaian (principium convenientiae)
Asas ini menyatakan bahwa ada dua hal yang sama. Salah satu diantaranya sama dengan hal yang ketiga. Dengan demikian hal yang lain itu juga sama dengan hal yang ketiga tadi. Misalnya : jika S = M, dan M = P, maka S = P.
- Asas ketidaksesuaian (principium inconvenientiae)
Asas ini juga menyatakan bahwa ada dua hal yang sama. Tetapi salah satu diantaranya tidak sama dengan hal yang ketiga. Dengan demikian hal yang lain itu juga tidak sama dengan yang ketiga tadi. Misalnya : jika A = B, tetapi B = C, maka A ≠ C.
2. Dari sudut luasnya, terdapat :
- Asas dikatakan tentang semua (principium dictum deomni)
Apa yang secara universal diterapkan pada seluruh lingkungan pengertian (subyek), juga boleh diterapkan pada semua bawahannya.
- Asas ini dikatakan tentang manapun juga (principium dictum de nullo)
Apa yang secara universal tidak dapat diterapkan pada suatu pengertian (subyek), juga tidak dapat diterapkan pada semua bawahannya.

Silogisme dalam Matematika
Ciri utama matematika adalah penalaran deduktif yaitu kebenaran suatu konsep atau pernyataan yang diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya sehingga kaitan antar konsep atau pernyataan dalam matematika bersifat konsisten. Dalam melakukan penemuan.
Nama ilmu deduktif diperoleh karena penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi tidak didasari atas pengalaman seperti halnya yang terdapat didalam ilmu-ilmu empirik, melainkan didasarkan atas deduksi (penjabaran).
Secara deduktif dengan menggunakan silogisme, matematika menemukan pengetahuan yang baru berdasarkan premis-premis tertentu, walaupun pengetahuan yang ditemukan ini sebenarnya bukanlah konsekuensi dari pernyataan-pernyataan ilmiah yang kita telah temukan sebelumnya. Dari beberapa premis yang kita telah ketahui, kebenarannya dapat diketemukan pengetahuan-pengetahuan lainnya yang memperkaya perbendaharaan ilmiah kita.
Karena matematika merupakan proses berpikir deduktif dengan menggunakan silogisme, hal ini juga terlihat pada model pembelajaran yang dilakukan oleh guru di dalam kelas. Langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah :
Memilih konsep, prinsip, aturan yang akan disajikan dengan pendekatan deduktif (pendekatan pengajaran yang bermula dengan menyajikan aturan, prinsip umum diikuti dengan contoh-contoh khusus).
Menyajikan aturan, prinsip yang bersifat sifat umum lengkap dengan defenisi dan buktinya.
Disajikan contoh-contoh khususnagar siswa dapat menyusun hubungan antara keadaan khusus itu dengan aturan, prinsip umum.
Disajikan bukti-bukti untuk menunjang atau menolak kesimpulan bahwa keadaan khusus itu merupakan gambaran dari keadaan umum.








BAB III
PENUTUP

Ciri utama matematika adalah berpikir deduktif yaitu kebenaran suatu konsep atau pernyataan yang diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya sehingga kaitan antar konsep atau pernyataan dalam matematika bersifat konsisten. Oleh karena itu silogisme juga tidak dapat dipisahkan dari matematika. Karena silogisme itu sendiri merupakan bagian dari berpikir deduktif.
Secara deduktif dengan menggunakan silogisme, matematika menemukan pengetahuan yang baru berdasarkan premis-premis tertentu, walaupun pengetahuan yang ditemukan ini sebenarnya bukanlah konsekuensi dari pernyataan-pernyataan ilmiah yang kita telah temukan sebelumnya. Dari beberapa premis yang kita telah ketahui, kebenarannya dapat diketemukan pengetahuan-pengetahuan lainnya yang memperkaya perbendaharaan ilmiah kita.









DAFTAR PUSTAKA

Surajiyo. 2008. Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia. Jakarta : Bumi Aksara
Sudarsono. 2008. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. Jakarta : Rineka Cipta.
http://dossuwanda.wordpress.com./artikel/silogisme-dan-generalisasi-kajian-tugas-makalah/



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar